It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

08 Februari 2014

ORKES KERONCONG TIRTO WENING

Oleh MUCH. KHOIRI

Kangenku akan musik keroncong yang mendayu terobati kali ini. Ada grup musisi orkes keroncong “Tirto Wening” PDAM Kota Madiun, sedang beraksi di mal Carefour, Madiun. Berpentas di samping pintu masuk, 8 anggota kru yang semua berkostum hitam ini kompak menyemarakkan suasana.


Dengan dua singer (sinden), grup musik ini melantunkan serentetan lagu yang dikeroncongkan. Jembatan Merah terasa syahdu; lagu Bengawan Solo terdengar kian menghanyutkan. Musiknya benar-benar maknyus, bisa mengendurkan syaraf tegang, seakan bisa menghilangkan fisik yang capek akibat menyetir 4 jam.

Aku sengaja duduk di cofee-shop di dekatnya, agar bisa hanyut dalam iramanya, dan mengobati rasa rinduku selama ini. Sementara isteri dan anak perempuanku berbelanja buah tangan untuk Bapak-Ibuku. Mereka paham, bahwa aku menyukai musik keroncong ini. Karena itu, mereka membiarkan aku tidak menemani (keliling) mereka menjelajahi seisi mal.

Kalau tadi para sinden bergiliran melantunkan lagu, kini giliran udangan untuk kastamer mal. Salah satu sinden mengundang kastamer mal untuk menyumbangkan lagu. Ada teks lagu tersedia di depan kru itu. Orang tinggal bilang, dan dia akan bisa memilih lagu mana yang diinginkan. Mirip saat undangn untuk berkaraoke.

Di antara kerumunan kastaner, ada seorang lelaki 40 tahun ambil inisiatif, dan dia memesan lagu JambuAlas. Sambil mendekat mic, dia memasukkan sumbangan ke kotak-amal. Senyuman dan ucapan terima kasih didengarnya. Setelah intro dimulai, lelaki itu pun menyanyikan lagu campursari Jawa Didi Kempot Jambu Alas itu.

Kelingan manis eseme
trus kelingan ramah gemuyune
Tresna lan kasih, kasih akunge
karep atiku klakon dadi bojone.

Akunge wes nduwe bojo
nanging aku, aku wes kadung tresna
Nelangsa rasaneng ati
yen aku ra klakon melu nduweni

Reff:
Jambu alas kulite ijo
sing digagas wes duwe bojo
Ada gula ada semut
durung randha ojo direbut

Sumpah ning batin
yen kula tidak dikawin
Tekade ngati
ora bakal luruh ganti
Sumpah wis janji
arep sehidup semati
seneng lan sedih
bareng-bareng dilakoni

Jambu alas nduk
manis rasane
Snajan tilas
tak enteni randhane

Tak urung, aku menikmati lagu yang diiringi rancak oleh orkes keroncong dari Madiun ini. Ah, mumpung aku bisa pulang kampung, sowan orangtua—sesuatu kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Di Surabaya tak mudah ditemukan grup musik berbahasa Jawa semacam itu. Andaikata ada, bahasa Jawanya sudah logat Suroboyo-an—dan ini tidak pas dengan rasa seniku yang memang asli Madiun (dengan bahawa Jawa halus).

Setengah jam sudah berlalu, tengah hari telah condong ke dhuhur. Namun, isteri dan anakku belum selesai dengan acara berbelanja. Mereka sedang walk-shop, ya jalan-jalan ya belanja. Wah, ini kesempatan. Mereka berkesempatan untuk jalan-jalan dan belanja; aku menikmati keroncong aduhai ini. Sama-sama diuntungkan, hehehe.

Tatkala jeda sejurus kemudian, aku sempatkan untuk mengorek informasi tentang grup ini. Ternyata, grup ini memang terdiri atas para karyawan PDAM Kota Madiun yang memang punya darah seni. Grupnya dinamai “Tirto Wening”, yang artinya Air Bening. Air bening bisa multimanfaat, dan memberikan banyak kebaikan kepada sesama.

“Bapak bisa mengundang kami,” begitu kata Pak Taufik PDAM, seraya menyerahkan kartu nama. Boleh dibilang, beliau ketua grup orkes keroncong ini. Jadi, tawaran beliau ini perlu dipertimbangkan tatkala kami kelak punya hajat menggelar hiburan.


Namun, lepas dari tawaran itu, aku berharap tagline grup ini terwujud. Taqline itu tercetak di kaos kostume mereka: “...Play Keroncong Music, Save Indonesian Heritage.” Sebuah cita-cita kultural yang mulia dan layak didukung. Mudah-mudahan.***

Tidak ada komentar: