It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

13 Januari 2011

Bahasa Inggris untuk Wawancara: KIAT MENGHADAPI WAWANCARA KERJA


Much. Khoiri
Pengantar
Wawancara kerja (job interview) merupakan komponen tak terpisahkan dengan proses aplikasi (lamaran) kerja. Wawancara kerja lazimnya dilakukan setelah beberapa waktu surat lamaran dilayangkan ke suatu perusahaan atau instansi, dan perusahaan/instansi tersebut memutuskan untuk mengundang si pembuat aplikasi kerja untuk menjalani wawancara. Wawancara, sebagai tindak-lanjut dari aplikasi kerja, membutuhkan persiapan yang tak kalah seriusnya dengan penulisan aplikasi kerja. Bahkan, wawancara merupakan momentum klarifikasi dan pemantapan tentang kualifikasi dan ekspektasi si pelamar kerja.
            Kegagalan atas aplikasi kerja boleh jadi disebabkan karena kurang baiknya capaian dalam wawancara. Sebagus apapun aplikasi kerja telah ditulis dan dipersiapkan, ia tak akan banyak membantu jika si pelamar tidak mampu menunjukkan performansi yang bagus pula saat wawancara. Tidaklah mengherankan jika banyak pelamar menganggap bahwa wawancara merupakan langkah mencari kerja yang mencemaskan dan menyebabkan ketidakpastian (baca: keraguan). Sumbernya mungkin bukan dari kompetensi atau kualifikasi si pelamar, melainkan lebih berupa strategi dalam menghadapi wawancara tersebut.
            Tulisan berikut memaparkan seputar kiat menghadapi wawancara kerja, dengan harapan mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi siapapun Anda yang sedang mencari kerja. Tulisan akan mencakup bahasan tentang tujuan wawancara kerja, persiapan wawancara, dan bagaimana wawancara yang efektif, dan gaya wawancara). Keempat bagian ini disajikan secara subsekuen.

Tujuan Wawancara
            Tujuan wawancara yang dimaksud di sini adalah tujuan wawancara dari sudut pandang pelamar kerja—bukan pihak perusahaan atau instansi penyedia kerja. Karena itu, tulisan ini diarahkan agar si pelamar memahami dengan sesungguhnya seluk-beluk tujuan wawancara kerja.
            Dalam hal ini Richard Lathrop menyatakan tiga tujuan utama seseorang dalam menjalani sebuah wawancara kerja, yakni:
  1. Meyakinkan calon bos (employer) untuk menggaji pelamar karena dia memiliki ketrampilan, kemampuan, kepribadian, dan minat yang tepat untuk pekerjaan yang diharapkan;
  2. Mengevaluasi pekerjaan, setting kerja, calon bos, calon teman kerja, dan perusahaan/instansi yang dituju;
  3. Menunjukkan keuntungan yang akan diraup perusahaan/instansi tersebut jika menggaji pelamar. Bahaslah tentang kebutuhan bos—bukan kebutuhan pelamar.
Tiga tujuan wawancara tersebut di atas menegaskan kepada setiap pelamar kerja bahwa wawancara kerja pada hakikatnya menuntut si pelamar untuk mengetahui secara persis apa yang hendak dicapai dalam wawancara itu. Calon bos harus diyakinkan bahwa pelamar itulah orang yang tepat untuk mengisi lowongan kerja yang dia buka.

Persiapan Wawancara
            Menghadapi wawancara sangatlah penting. Perencanaan yang bagus lazimnya menjamin performansi atau penampilan yang terbaik. Seseorang yang ceroboh dalam persiapan wawancara lazimnya akan menjalani wawancara dengan setengah hati, tidak tenang, dan dapat menyebabkan kegagalan yang fatal.  Persiapan dapat berfungsi untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan negatif—grogi misalnya—yang barangkali mengganggu proses wawancara.
            Sumarliah dkk (2003) menyarankan strategi 4-R: Reflect (refleksi/merenung), Research (riset/survei informasi), Rehearse (melatih diri/ mempraktikkan), dan Remember (mengingat) dalam persiapan wawancara kerja. Masing-masing dapat dipaparkan berikut ini:
  1. Reflect (refleksi/merenung)
·         Reafirmasi ketrampilan dan kemampuan diri
·         Melakukan review terhadap evaluasi diri (self-assessment)
·         Menentukan aspek-aspek pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan dan kebutuhan bos
·         Mempertimbangkan kontribusi untuk perusahaan
·         Membandingkan nilai-nilai diri dengan filosofi perusahaan
·         Mengetahui poin-poin (prestasi) yang akan diciptakan
·         Merenungkan career goal terkait dengan pekerjaan

  1. Research (riset/survei informasi)
·         Memperoleh informasi tentang perusahaan lewat personalia atau kantor-kantor humas: laporan tahunan, handbook karyawan, statemen kebijakan, newsletter karyawan;
·         Menggunakan perpustakaan atau surat kabar untuk melacak profil perusahaan
·         Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan hasil survei
·         Memperoleh kopian deskripsi tugas
·         Mengunjungi lokasi dan menangkap atmosfir tempat kerja
·         Bercakap dengan karyawan tentang perusahaan
·         Mencari tahu orang-orang yang akan mewancarai
·         Menggunakan teknik wawancara informasional
  1. Rehearse (melatih diri)
·         Melatih diri teknik wawancara di depan cermin
·         Mereview bahasa tubuh, terutama di bawah tekanan
·         Menggunakan gerak-gerik untuk menegaskan poin penting
·         Menjadi diri sendiri, menunjukkan keunikan diri
·         Belajar murah senyum

  1. Remember (mengingat)
·         Mengepak resume, surat aplikasi, pulpen, pertanyaan-2 riset, nama dan alamat pemberi referensi, dan data tentang perusahaan
·         Memilih sample pekerjaan, portfolio, brosur, surat-surat, dan laporan yang menunjukkan skills
·         Memilih pakaian yang sesuai dengan lingkungan kerja dan posisi yang hendak dituju
·         Mengurangi perasaan stress pada saat wawancara
·         Menyediakan waktu untuk dating lebih awal

Wawancara yang Efektif
            Ada sejumlah hal yang penting untuk dipertimbangkan ketika menghadapi wawancara yang efektif. Lazimnya pewawancara akan memperhatikan sepuluh factor berikut ini:
(1)  Busana yang tepat dan patut.  Jika anda, wanita, menghadapi wawancara di perusahaan bernapaskan Islam, seyogianya anda mengenakan jilbab atau pakaian yang menutup aurat.  Jika perusahaan itu umum, dan jika anda tidak berjilbab, anda sebaiknya mengenakan pakaian eksekutif.
(2)  Perawatan diri yang baik. Orang yang memelihara kebersihan dan merawat diri dengan baik dianggap mampu mengurus diri dan sekitarnya.
(3)  Jabatan tangan yang rapat.  Jabatan rapat mencerminkan ketegasan dan kesungguhan.
(4)  Penampilan yang mencerminkan energi yang terkendali. Perusahaan membutuhkan orang-orang yang memiliki semangat kerja dan perjuangan untuk mengukir kinerja terbaik dan kesuksesan.
(5)  Rasa humor dan kesiapan tersenyum. Ketegangan hanya akan memperburuk atmosfir wawancara.  Sekali tempo anda perlu menampilkan rasa humor dan senyum yang tak terlupakan. Hal demikian akan memberikan kesan tersendiri tentang diri anda.
(6)  Minat tulus terhadap operasi kerja bos dan perhatian prima saat pewawancara bicara. Minat tulus mencerimkan kesungguhan anda untuk bergabung, sementara perhatian anda terhadap pewawancara merupakan indikasi awal bahwa siap menjadi pendengar yang baik. Perlu diingat bahwa menjadi pendengar yang baik merupakan modal sosial yang penting untuk membangun komunikasi sosial dan manajemen tim.
(7)  Kebanggaan dalam kinerja masa lalu. Jangan mengutuk mantan bos atau teman sejawat yang telah bekerjasama dengan anda. Ini merupakan sikap negatif yang harus ditinggalkan, sebab pewawancara agaknya akan berpikir dengan praduga-praduga tertentu yang justru sangat merugikan anda sendiri.
(8)  Pemahaman tentang kebutuhan bos dan keinginan untuk melayani bos. Kesiapan anda untuk melayani (calon) bos sangatlah wajar di mata bos, sebab bos-lah yang merekrut anda, dan karena itu anda harus mengikuti kemauan bos. Sebagai anak buah, anda tentu harus mengetahui dan memahami kebutuhan-kebutuhannya.
(9)  Pemunculan ide-ide yang cemerlang. Jika anda mampu memunculkan ide-ide cemerlang, perusahaan lazimnya sangat menghargainya. Di saat-saat pailit gagasan, orang semacam anda-lah yang diharapkan membantu memecahkan kebuntuan dan problematika yang rumit. Karena itu, saat wawancara, tunjukkan
(10)       Kemampuan mengambil kendali saat pewawancara agak turun tenaga dalam wawancara. Hal ini menunjukkan bahwa anda merupakan orang yang memiliki inisiatif dan daya inovasi. Selagi disampaikan dengan sopan dan baik, tindakan tersebut tidak akan dianggap telah melangkahi wewenang pewawancara.

Gaya Wawancara
            Tidak ada satu cara paling benar untuk wawancara. Jika anda menghadapi wawancara, seyogianya anda bersikap santai (rileks) dan berupaya untuk menjadi diri sendiri.  Perlu diingat bahwa  proses wawancara merupakan prosese dua-arah yang menuntut penyimakan aktif dan partisipasi aktif pula. Kepasifan bukanlah strategi efektif di dalam wawancara kerja atau dalam mencari kerja, dan pada gilirannya akan menyebabkan penolakan terhadap lamaran anda. Dalam hal ini, tanggungjawab utama anda adalah untuk menghindari penolakan dan memiliki keteguhan diri dalam proses pencarian kerja.

Meski demikian, menurut Sumarliah dkk. (2003: 42-43), ada sejumlah hal yang dapat dipertimbangkan berkaitan dengan gaya menghadapi wawancara, yakni: enthusiasm (antusiasme), energy (energi), eye contact (kontak pandang), elaborate answers (paparkan jawaban), exchange ideas (tukar ide), equality (kesetaraan), ease (kemudahan), dan etiquette (etiket).
            Antusiasme terhadap posisi (jabatan) dan perusahaan yang dituju pelamar memberikan kontribusi positif bagi wawancara. Hal ini menunjukkan bahwa anda dianggap memiliki kesungguhan yang diandalkan untuk bergabung dengan perusahaan tersebut. Selain itu, hal itu juga menunjukkan bahwa anda memiliki pengetahuan luas dan rasa-memiliki bagi perusahaan tersebut.  Orang yang tak memiliki antusiasme saat melamar kerja lazimnya tidak diharapkan oleh perusahaan yang profesional.
            Energi atau semangat kerja tampak melalui sikap anda dan di dalam resume. Sikap anda saat berjalan, duduk, menjawab, mendengarkan, dan sebagainya saat wawancara benar-benar dinilai sebagai tolok ukur apakah anda memiliki semangat atau energi prima untuk bergabung. Resume atau curriculum vitae mungkin telah cukup lengkap menuangkan potensi anda, tetapi semua ini akan dilengkapi dengan sikap anda saat menjalani wawancara: apakah sikap anda juga mencerminkan apa yang telah tertulis pada resume.
            Kontak pandang antara anda dan pewawancara sangat penting saat menjalani wawancara. Jangan menundukkan kepala saat diwawancarai. Anda perlu memandang pewawancara secara alamiah, tidak usah berlebihan. Orang Amerika bilang,”Anda bukan orang Amerika hingga anda memandang saya saat bicara pada saya.” Prinsip demikian ada sisi positifnya. Dengan memandang orang yang mewawancarai, anda akan dinilai apakah segala ucapan anda mengandung kejujuran atau kebohongan.
            Pemaparan jawaban atas pertanyaan pewawancara perlu dilakukan, tetapi harus mengena dan efektif. Seyogianya anda menghindari jawaban satu-kata yang singkat. Jika seseorang terlampau pelit dalam memberikan respons, ia mungkin dianggap sebagai orang bodoh dan kurang gagasan. Sebaliknya, jika dia memberikan paparan secukupnya, dia sangat mungkin dinilai sebagai orang yang memiliki pengetahuan luas dan berbobot. Orang-orang cerdas dan cerah dalam berbagai gagasan baru biasanya sangat diharapkan oleh perusahaan.
            Anda juga bertukar gagasan dengan pewawancara, karena wawancara itu hakikatnya proses dua-arah. Jangan lupa memberikan evaluasi anda terhadap perusahaan yang anda inginkan. Evaluasi tentu saja dapat bersifat kritik dan saran yang membangun—dan tidak perlu harus selalu berpura-pura agar pewawancara merasa senang.  Soal gaji, dengan demikian, hakikatnya juga dapat dikompromikan, dan membicarakan soal gaji bukanlah sesuatu yang tabu dan menyebabkan wawancara anda gagal.
            Anda sebaiknya meyakini bahwa ada kesetaraan dalam wawancara antara pewawancara dan anda. Jangan merasa minder dan inferior terhadap pewawancara. Pewawancara juga manusia, sama persis dengan anda. Kalau sang pewawancara mampu melakukan suatu tindakan tertentu, yakinilah bahwa anda juga mampu melakukan hal serupa. Oleh karena itu, peliharalah kekuatan pribadi anda, agar tetap tampil percaya diri.
            Kemudahan berwawancara disebabkan oleh karena kemauan berlatih sebelum menjalani wawancara. Latihan benar-benar sangat bermanfaat bagi wawancara yang hendak anda jalani. Meski demikian, jika anda terpaksa menjadi tegang dan grogi (nervous), maka anda harus berupaya keras menenangkan diri. Dalam hal ini, hiruplah napas dalam-dalam dan senyumlah untuk membantu relaksasi.
            Etiket juga penting dalam wawancara. Dalam hal ini, jabatlah tangan pewawancara, ucapkan terima kasih, dan (jika perlu) tulislah surat follow-up tentang wawancara tersebut. Tak sedikit pelamar kerja yang akhirnya gagal hanya karena yang bersangkutan tidak memiliki etiket yang bagus. Karena itu, tunjukkan kepribadian anda sebaik-baiknya agar kesan mendalam tentang anda akhirnya ditangkap dan dimiliki pewawancara.    

Epilog
            Wawancara kerja, sebagai bagian proses melamar kerja, dengan demikian harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Persiapan yang matang sangat membantu seseorang untuk menunjukkan ketrampilan dan kemampuan secara optimal. Kesuksesan dalam wawancara banyak ditentukan oleh persiapan yang matang.
            Berbagai kendala dalam wawancara memang dihadapi (hampir) siapapun yang mencari kerja. Akan tetapi, tulisan ini telah berupaya memaparkan kiat menghadapi wawancara yang barangkali dapat dimanfaatkan, tidak hanya tentang persiapan wawancara, melainkan juga tentang bagaimana wawancara efektif dan gaya wawancara. Meski demikian, semua juga berpulang pada seberapa besar anda terinspirasi oleh gagasan-gagasan sederhana tulisan ini, untuk dikembangkan menjadi langkah-langkah yang pasti dan efektif.
            Sebagai tutur akhir, jika di kemudian hari anda memperoleh pekerjaan terbaik untuk anda berkat kesuksesan anda dalam menempuh wawancara, maka maksud dan tujuan mendasar tulisan ini menemukan jawaban dan fakta yang menggembirakan. Dan itu bukanlah suatu kemustahilan!***

BAHAN BACAAN

Broughton, Geoffrey. 1970. Success with English: Coursebook 3Middlesex,
England: Penguin Books

Carnegie, Dale. 1987. How to Win Friends and Influence People (Tuan Ingin
            Banyak Kawan?) Jakarta: Balai Pustaka.

King, F.W and D. Ann  Cree. 1962. English Business Letters. Essex, England:
Longman

Littauer, Florence. 1996. Personality Plus (Terj. Anton Adiwiyoto). Jakarta:
Binarupa Aksara.

Sumarliah, Eli., dkk. 2003. English for Career and Business. Jakarta: Indonesian
Education Management Institute (IEMI).

Tidak ada komentar: