It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

29 Desember 2010

Dream to Be the Winner


Much. Khoiri
Kalau kita membuka membaca lowongan kerja di berbagai surat-kabar atau iklan kerja, kita harus mengakui bahwa disamping kemampuan lain, bahasa Inggris telah menjadi syarat utama perekrutan karyawan.  Mencari kerja tanpa dibarengi kemampuan bahasa Inggris yang menonjol, baik lisan maupun tulis, menyebabkan seseorang menanggung kekhawatiran tertentu. Kendati bahasa Inggris tersebut barangkali tidak akan terpakai secara ajek (kontinyu) dalam dunia kerja, toh persyaratan kemampuan bahasa Inggris itu seakan menjadi harga mati (fixed price) yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Apakah persyaratan kemampuan bahasa Inggris tersebut hanyalah sebuah formalitas, itu merupakan hal lain. Agaknya perusahaan atau instansi pencari tenaga kerja sudah telanjur berasumsi bahwa seseorang yang berkemampuan bahasa Inggris bagus memiliki kemampuan kerja yang bagus pula. Bahasa Inggris dianggap sebagai alat utama meningkatkan kinerja seseorang.  Entah benar atau salah asumsi demikian, fakta telah menunjukkan kecenderungan bahwa seseorang yang berkemampuan bahasa Inggis buruk tidak akan menemukan kemudahan dalam merintis atau meniti karir.  Dengan merekrut tenaga yang berkemampuan bahasa Inggris bagus, setidaknya perusahaan atau instansi sudah berhemat dalam biaya training bagi karyawan.

Kenyataan tersebut mengindikasikan bahwa bahasa Inggris bukan satu-satunya kemampuan yang dituntut oleh pangsa pasar kerja. Akan tetapi, bahasa Inggris tidaklah dapat dikesampingkan begitu saja—jika seseorang tidak ingin “dikesampingkan” oleh pangsa kerja itu sendiri.  Dengan kalimat lain, berkemampuan bahasa Inggris yang bagus, lisan dan tulis, bukan lagi tuntutan yang mewah dan bergengsi, melainkan sebuah kewajaran dan (bahkan) keharusan.

Sementara itu, mencari kerja masih menjadi “idiom bersama” dalam konteks merintis sebuah karir. Kebanyakan kita lebih suka bekerja pada perusahaan atau instansi tertentu, atau individu-individu tertentu. Ekstremnya, kebanyakan kita lebih suka “ikut orang lain” daripada “ikut diri sendiri” alias memiliki lapangan kerja sendiri. Dalam kalimat lain, mayoritas kita adalah pencari kerja, bukan pencipta kerja.

Karena kondisi demikian, kebanyakan kita juga harus mengikuti aturan main yang membutuhkan tenaga kita. Kitalah yang harus menyesuaikan diri denganh tuntutan mereka, bukan sebaliknya. Kalau sederatan persyaratan yang diajukan antara lain adalah kemampuan bahasa Inggris, mau tak mau kita wajib memenuhinya agar dianggap memenuhi kualifikasi.  Hal ini diharapkan membiaskan pencerahan betapa pentingnya kemampuan bahasa Inggris bagi siapa pun yang hendak mencari kerja dan mengembangkan karir.

Tulisan ini bertindak sebagai bahan refleksi agar kiranya bahasa Inggris dapat ditempatkan sebagai tenaga penggerak untuk mewujudkan impian orang dalam mencari kerja atau menemukan karir yang diidam-idamkan. Dengan bantuan kemampuan bahasa Inggris yang memadai, orang akan memperoleh kemudahan dalam merintis suatu karir dan sekaligus mengembangkan karir tersebut. Jijka hal itu bagian dari impian hidup seseorang, maka bahasa Inggris diharapkan merupakan salah satu kendaraan untuk mengukir kesuksesan.

II
Setiap manusia lazimnya memiliki dream atau impian, cita-cita,  dalam hidupnya. Impian tentu tidak identik dengan angan-angan kosong, sekadar keinginan atau harapan (wish). Impian menyimpan kekuatan jauh lebih kuat, dan daya motivatif yang dahsyat. Manusia yang memiliki impian kuat biasanya berobsesi, bahwa impian hidupnya haruslah terwujud; sebab jika tidak, manusia bersangkutan mungkin tidak akan sanggup menanggung akibatnya. 

Dalam sebuah puisinya yang inspiratif dan aspiratif, Langston Hughes, seorang penyair kulit hitam Amerika, bertutur berikut ini:

Hold fast to dreams
For if dreams die
Life is a broken-winged bird
That cannot fly.

Hold fast to dreams
For when dreams go
Life is a barren field
Frozen with snow

Menurut Hughes, tanpa impian, hidup adalah burung yang patah sayapnya yang tak kuasa terbang melanglang angkasa. Pun tanpa impian, hidup adalah ladang tandus yang membeku bersama salju. Dus, impian haruslah dipegang erat-erat, dirawat dan diwujudkan. Hanya dengan impian kuat, manusia memiliki arah hidup jelas dan selalu terdorong untuk “menghidupkan” hidup dan menjadi manusia sesungguhnya. Kualitas kehidupan yang sempurna dimulai dengan impian besar.

Ironisnya, tidak semua orang memiliki impian, cita-cita, atau tujuan hidup yang jelas. Jika ditanya bagaimana kondisi hidup kita lima atau sepuluh tahun mendatang—baik aspek fisik-jasmaniah, finansial, mental, spiritual, keluarga, maupun sosial—, hanya sedikit dari kita yang mampu menjawabnya dengan meyakinkan. Kebanyakan kita hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala, atau diam dengan pandangan kosong. Umumnya kita hanya mengalir, pasrah, bersama arus hidup itu sendiri.

Apakah ada sesuatu yang salah? Mungkin ada yang salah, kurang pas; tetapi janganlah langsung dipulangkan pada nasib/takdir, sebab nasib atau taldir memanglah bukan urusan kita. Jika kegagalan kita pulangkan pada takdir, kita biasanya akan berprasangka buruk kepada Tuhan—dan itu bukanlah jawaban yang konkret.  Sebagai manusia, kita seyogianya menomorsekiankan nasib/takdir setelah menempuh berbagai ikhtiar. Dalam kalimat lain, ikhtiar tetaplah yang terdepan dan utama, barulah disusul dengan doa dan kepasrahan (tawakkal). Maka, amat mungkin “kegagalan” atas impian kita bersumber dari “kegagalan” kita dalam mengelola proses perwujudannya.

Lalu, adakah strategi mewujudkan impian?

Marilah kita berguru pada orang-orang sukses. Orang-orang sukses mengidentifikasi dan menuliskan dengan jelas impian mereka. Menurut survei, ada 27% dari seluruh manusia di dunia ini sama sekali tak memiliki tujuan hidup yang jelas; 60% memilijki tujuan agak samara-samar; 10% memiliki tujuan hidup jelas; dan 3% sisanya tidak hanya bertujuan jelas melainkan juga menuliskannya! Dan telah terbukti bahwa yang 3% itu sekarang memiliki kondisi hidup yang jauh lebih cemerlang dan sejahtera.

Menurut mereka, yang 3% itu, impian-impian perlu ditulis di dalam sebuah “Dream Book” (buku impian). Buku ini memuat daftar impian berupa pernyataan-pernyataan tertulis dan bertarget sesuai dengan klasifikasi aspek hidup: fisik-jasmaniah, finansial, mental, spiritual, keluarga, dan sosial. Pernyataan itu, misalnya, berbunyi: (1) Fisik-jasmaniah:  “Aku harus memiliki tubuh sehat, kuat, dan seimbang.”  (2) Finansial: “Saya harus membeli sepeda motor baru tahun depan; (3) Mental: “Aku harus melenyapkan ego-ku yang berlebihan.” (4) Spiritual: “Aku harus menunaikan ibadah haji tiga tahun lagi.” (5) Keluarga: “Aku harus membangun keluarga yang demokratis dan akrab.” (6) Sosial: “Aku harus memiliki teman dari segala lapisan masyarakat.” Jika perlu, pernyataan itu disertai gambar atau foto repreasentatif—dan sebagai tambahan, bisa ditempel di dinding kamar tidur, ruang keluarga, dapur, kamar mandi atau kaos singlet, agar visualisasinya jelas dan selalu mengobsesi benak. Obsesi impian di dalam benak merupakan sumber kekuatan impian.

Kemudian, daftar impian tersebut perlu diterjemahkan menjadi daftar goal rinci dan operasional yang langsung mendukung impoian. Daftar goal ini bisa dianggap sebagai target-target langkah kecil yang harus ditempuh untuk mewujudkan sebuah impian besar yang berkaitan. Perlu diingat, kesuksesan besar hanya bisa dicapai dengan mewujudkan ribuan kesuksesan kecil. Impian membeli sepeda motor, misalnya, harus ditempuh dengan goal berupa menabung penuh disiplin setiap bulan hingga tabungan itu memadai. Begitu pula hanya dengan impian untuk memiliki teman dari segala lapisan masyarakat.

Setelah daftar goal siap, kita perlu segera menyusun rencana kerja (action plan). Ini perlu dipetakan dalam diagram atau skema sederhana yang menggambarkan butir-butir goal dan target waktu—yang berujung pada butir impian. Actian plan bisa diterapkan pada semua atau salah satu aspek hidup yang diprioritaskan. Tentu saja, action plan semacam ini perlu disiapkan untuk semua impian dalam aspek fisik-jasmaniah, finansial, mental, spiritual, keluarga, dan sosial.

Kini tinggallah kita melaksanakannya dengan kendaraan berupa kerja keras dan fokus pada pencapaian goal. Ibarat bermain bola, pemaian legendaris Pele atau Maradona tak mungkin mencetak gol andaikata gawangnya tidak terpasang, atau andaikata mereka tak terfokus menggiring bola secara lihai dan melewati pemain-pemain lawan. Mereka terfokus pada upaya menyarangkan bola ke gawang (goal) untuk mewujudkan impian memenangi pertandingan. Dengan goal jelas, orang menjadi kreatif dan bersemangat untuk menang.

Bagaimana dengan hambatan atau kendala?

Hambatan atau kendala tentu saja tidak harus diharamkan, tetapi harus dicarikan solusi. Memang banyak kendala dalam mewujudkan impian, sebab tanpa kendala sebuah perjuangan—sebagaimana plot sebuah cerita novel—tidaklah seru dan indah. Tanpa kendala, perjuangan hidup bagaikan sayur tanpa garam. Alangkah hambar dan monoton hidup semacam itu.  Kendala justru hanya akan menjadi tantangan selama kita tetap fokus pada goal, atau selama kita memfokuskan diri pada solusi—bukan pada masalah. Selagi kita konsentrasi pada solusi, kita akan kreatif menemukan cara apa pun yang memungkinkan untuk mengatasi kendala itu. Sebaliknya, jika kita konsentrasi pada kendala, kita akan selalu berkutat dalam lingkaran setan kendala itu—dan menjadi pecundang sebelum akhir perjuangan.

Lihatlah pemain bola. Setiap pemain, dengan goal  yang jelas, terobsesi menyarangkan bola ke gawang lawan.  Berbagai kendala dihadapinya. Dengan keringat  bercucuran atau napas terengah,  mereka mengadu strategi dan skill bermain untuk saling mengungguli pihak lawan.  “Main kayu” alias bermain kasar pun tak jarang harus mereka jalani, bahkan kadang-kadang mereka mengalami cedera tertentu.  Mereka tidak cepat menyerah, bahkan semangat harus tetap berkobar dalam jiwanya. Jatuh bangun ditempuhnya, seakan tanpa keluh kesah. Semua itu mereka lakukan untuk menghalau setiap kendala dalam permainan. Mereka berkonsentrasi penuh untuk menaklukkan kendala itu.  Mereka ingin menjadi pemenang, bukan menjadi pecundang.

Dalam menghadapi setiap kendala, sikap (attitude) kita jualah yang berperan sangat penting. Untuk mencapai setiap mimpi, kita perlu membangun sikap positif agar menjadi pemenang. Kita perlu memiliki pengabdian dan komitmen total serta daya tahan kuat untuk tidak cepat menyerah.  Sikap negatif perlu dibuang jauh-jauh, karena sikap negatif hanya akan menghancurkan semangat perjuangan—laksana api yang menghanguskan ranting-ranting kayu. Sikap negatif membuat orang pesimistik dan menyebabkannya menjadi pecundang, sedangkan sikap positif membuat orang optimistik dan mencetaknya menjadi pemenang.

Orang-orang bijak pernah bertutur: “Jika Anda berpikir punya masalah, Anda pasti punya masalah; jika tidak berpikir demikian, Anda akan merasakan tak punya masalah.” Kekuatan pikiran dan sikap juga tampak dalam ungkapan indah berikut ini: “Kalau Anda keras terhadap hidup, maka hidup akan lunak terhadap Anda; sebaliknya, kalau Anda lunak terjadap hidup, maka hidup akan sangat keras terhadap Anda.”

Refleksi,  Meretas Kemenangan

Sekarang, marilah kita renungkan rutinitas kita sehari-hari. Di sana barangkali kita temukan (kembali) permata impian kita yang selama ini tersembunyi, terabaikan, atau lenyap terkubur. Kita gali (kembali) gudang impian itu, dan kita gambarkan dengan jelas selagi bermimpi (untuk lebih baik) tidaklah berdosa. Justru dengan impian kuat, hidup kita menjadi lebih hidup, kreatif, dan bermakna—bukannya seperti burung yang tak kuasa terbang atau lading tandus yang membeku bersama salju.

Dan bila saatnya tiba kita sukses mewujudkan impian, kita harus memberikan hadiah atau penghargaan (reward) yang pantas dan memadai kepada diri sendiri—mulai pujian sampai hadiah materiil: misalnya laptop baru! Tak usah pelit dan malu-malu. Pahlawan memang seharusnya memperoleh penghargaan dan ganjaran yang setimpal. Kita rayakan kemenangan itu, dan dengan tulus kita akui bahwa kita memang layak jadi pemenang!

III
Sebagai epilog, saya ingin menegaskan bahwa sebagai manusia kita memang harus memiliki impian hidup yang jelas, agar kehidupan kita menjadi dinamis , terarah, dan menuju tercapainya kesejahteraan individu dan sosial.  Jika mencari atau menciptakan pekerjaan adalah pintu gerbang untuk mewujudkan impian hidup, maka saya merekomendasikan bahasa Inggris sebagai salah satu alat atau kendaraan yang mendukung tercapainya impian tersebut. Dalam konteks demikian, bahasa Inggris merupakan bahasa karir—yang pada gilirannya akan menjelma sebagai bahasa kesuksesan.***

Tidak ada komentar: