It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

23 Februari 2012

BELAJAR "MENJINAKKAN" HIDUP

Much. Khoiri

Sejak semalam otakku begitu enak mood-nya. Sedikit saja terkena pemicu atau trigger, ide-ide langsung muncul dan berproses. Berdesak-desakan untuk meminta dituangkan ke dalam tulisan. Aku jadi bingung sendiri, sampai aku menyapa seorang kolega lewat fesbuk dan bilang, “Kawan, kepalaku mumet dirubung ide-ide.”


Kubuatlah coretan-coretan di atas kertas (lalu kuketik dalam laptop Lenovo-ku) yang intinya adalah rencana membuat buku. Pertama, buku tentang CCU (pemahaman lintas budaya), yang naskahnya akan kudapatkan dari teman-teman wartawan atau akdemisi yang pernah ke luar negeri, dan mereka menuliskan kesan dan pengalaman mereka. Ada 16 topik yang bisa mereka pilih, mulai perkenalan (introduction) hingga penyesuaian budaya (cultural adjustment). Ini akan kupasang iklannya di milis dan fesbuk.

Kedua, calon buku cerpen tentang perjuangan perempuan dan kesetaraan gender, ini untuk menyambut Hari Ibu 22 Desember nanti. Iklannya akan kupasang di milis dan fesbuk (dua fesbuk-ku). Bisa mengeditori cerpen-cerpen perjuangan perempuan pastilah sangat menggugah dan menantang.

Ketiga, aku juga merancang kumcer alumni Unesa jilid kedua, yang melibatkan teman-teman alumni yang lain, misalnya M. Shoim Anwar, Etiek Minarti, Bonari Nabonenar, Sariban, Rachmd Giryadi, Ali Mahfud Haidar, dll. Ini memang jangka panjang, tapi perlu juga direncanakan mulai sekarang, apa salahnya.

Keempat, ini projek pelan namun pasti, yakni sebuah “Buku Saku Penulis” yang bisa digunaka sebagai teman bagi penulis (muda). Ini pasti laris manis, dan bagian dari kegiatan HCW. Di sana termuat kisah-kisah (proses kreatif) unik para penulis Indonesia dan dunia, anekdot, kutipan, kata mutiara, alamat penerbit dan surat kabar, alamat toko buku, lembar catatan.....

Kelima, rencana penelitian atau buku (yang bisa dimintakan donasinya ke konsulat jendral Amerika), yakni tentang “Amerika di Mata Anak-Anak Indonesia” (America in the Eyes of Indonesian Children). Ini berdasarkan tuturan seorang reporter cilik (Lampung Post) yang diwawancarai di TV. Siapa yang ingin kalian wawancarai setelah presiden Sby?” Jawab mereka, serentak,”Presiden Obama.”

Terakhir, aku ingin menulis sejumlah cerpen: (1) Durga, (2) Haji Saleh, (3) Pengalaman jadi eksekutor terpidana mati, sperti Gregory, (4) rapikan cerpen “Jambul dan Pak Tua”, dan (5) cerita detektif yang terilhami “Penjudi, Perawat, dan Radio.” Kalau kesempatan bisa kurebut, aku ingin segera menuangkan cerpen-cerpen ini.

Begitulah, hari ini aku merancang sejumlah tulisan, tidak membiarkan waktu berlalu tanpa kegiatan yang memberikan makna. Bisa saja aku bermalas-malasan atau menonton TV seharian, atau bercengkerama dengan keluarga. Akan tetapi, malas tidak memberikan apa pun kecuali kesia-siaan. Malas itu alasan orang untuk tak mau keluar dari zona nyaman saja.

Menuruti zona nyaman, berarti lunak terhadap hidup—hasilnya tentu tidak ada, karena ia berupa kesia-siaan, jauh dari kata produktif. Jika diteruskan, tidak ada hasil yang akan dipetik, dan karena itu hidup akan menjadi sulit. Dengan kata lain, kalau tidak keluar dari zona nyaman, hidup akan keras kepada aku, dan ini berarti hidup sangat berkuasa atas nasibku. Ini aliran jabariyah.

Hari ini aku telah mencoba keluar dari zona nyaman, melakukan sedikit berbeda dari orang lain ketika liburan datang. Aku menjadi keras terhadap hidup, dengan lembur-lembur membuat rancangan tulisan, aku melakukan investasi tenaga, waktu, pikiran. Aku yakin, semua itu akan menghasilkan sesuatu. Paling tidak, ada harapan untuk memanen apa yang telah aku tanamkan. Bukankah menuangkan rancangan tulisan itu seperti menabur benih, yang suatu saat bisa dilihat hasilnya?

Menjadi editor kumcer alumni Unesa telah mengajarkan kepada aku, bahwa hidup ini harus dilawan dengan kerja keras, lembur-lembur, pengorbanan—dan kemudian terwujudlah buku kumcer. Andaikata aku tidak mau kerja keras, mana mungkin kumcer jadi sebuah bahan bacaan, dan memberikan hasil—minimal ya kepuasan bathin?

Akhirnya, dengan ketetapan hati, setelah merenung-renung, aku menuliskan ungkapan berikut ini: “Kalau Anda keras terhadap hidup, maka hidup akan lunak terhadap Anda; sebaliknya, kalau Anda lunak terjadap hidup, maka hidup akan sangat keras terhadap Anda.”

Bagaimana dengan Anda?

Surabaya, Kamis 2 Juni 2011

1 komentar:

Pratiwi Retnaningdyah mengatakan...

Ada satu yang kurang, Om. Njawil mas Bonari dan Mbak Mega Vristian, agar proyek 'menulis' yang sudah jalan bisa ikut rampung, hehe.