It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

11 September 2012

URGENSI MENDEKONSTRUKSI KONSEP OLAHRAGA


oleh Much. Khoiri

Dalam rangka Hari Olahraga Nasional (Haornas, 9 September), saya mengajak untuk mengkritisi (dan mendekonstruksi)  konsep ‘olahraga’—suatu konsep yang kini terlalu sempit dan kadaluwarsa guna mewadahi kegiatan-kegiatan sports; ibaratnya kebanyakan isi kurang wadah.


Sudah sekian lama terma (istilah) ‘olahraga’ kita samakan dengan sports. Kita telah “salah kaprah” memakai paradigma yang kurang tepat. Dengan gegabah kita terjemahkan sports menjadi ‘olahraga’, tanpa mengatisipasi dan menimbang latar budaya dan pemekaran atau penyempitan makna.

Padahal, konsep kedua terma itu jauh berbeda. Sports itu berarti segala kegiatan (fisik dan/atau mental) yang lazim dilakukan di tempat terbuka guna memperoleh kesenangan  (amusement, fun). Ia bisa berupa kegiatan ringan, bisa berat, tapi tetap bersifat permainan (playful).

Dalam sports terkandung unsur physical exercise (latihan/gerak fisik) dan/atau mental exercise (latihan mental). Mana yang mengedepan, tak jadi soal. Intinya, untuk “menafkahi” kebutuhan amusement atau fun tersebut. Sebab itu, dikenal terma sportive, juga sportsman.

Sementara itu, berakar kata ‘olah’ dan ‘raga’, terma ‘olahraga’ mestinya berarti kegiatan yang berkaitan dengan kinesik dan dinamika raga, aktivitas tubuh atau gerak badan agar menjadi sehat. Ini analog terma ‘olah rasa’ guna mengacu kegiatan menempa rasa, ‘olah pikir’ untuk mengasah pikiran, ‘olah batin’ untuk mempertajam batin.

Lain kata, terma ‘olahraga’ hanya berkonotasi makna physical exercise itu, dan tak otomatis mencakupi kegiatan mental. Dus, ‘olahraga’ hanya sebagian dari sports. Konyolnya, frame makna sports di negara Barat kita pakai begitu dengan ‘olahraga’, meski konteksnya berbeda sama sekali.

Dulu pemakaian terma ‘olahraga’ memang tepat, karena kegiatan-kegiatan yang diwadahinya layak dikelompokkan dalam gerak raga, badan/tubuh. Cabang-cabang ‘olahraga’ semisal permainan (bola besar, bola kecil), atletik, renang, atau senam memang mengandalkan gerak raga.

Tapi kini terma ‘olahraga’, terlalu sempit guna mewakili jenis kegiatan yang “aneh-aneh”. Catur atau biliar, misalnya. Di mana letak unsur ‘olah raga’-nya dari dua kegiatan ini bila sambil berlomba atau bermain malah asyik merokok atau minum bir? Apa bedanya dengan mengetik, menulis, memasak, atau memijat kaki keseleo?

Balap mobil, gokar, atau grasstrack termasuk sports. Kendati pengemudinya tak banyak bergerak, dia memperoleh amusement, bakatnya terwadahi. Itu pas termanya. Tapi, termasukkah tiga jenis kegiatan dalam ‘olahraga’? Nah, siapa yang bergerak raga, pengemudinya ataukah kendaraannya?

Sepak bola, lari, gulat, dan renang memang termasuk dalam ‘olahraga’. Tapi balap mobil tentu tidak tepat. Apa bedanya balap mobil dengan sopir bus jarak jauh, tukang pos yang naik motor tiap hari, atau penggembala yang menunggang kerbaunya? Bukankah sopir bus, tukang pos, dan penggembala tak pernah disebut olahragawan?

Berkali kita ikut turnamen ke tingkat regional atau internasional. Cabang-cabang yang dilombakan memang sports, sekali lagi, catur misalnya. Kita anggap catur ‘olahraga’, dan orangnya disebut ‘olahragawan’ catur. Padahal, catur lebih berupa olah pikir, ya mirip ikut kuis, mengisi TTS (teka-teki silang), atau main kartu.

Di negara maju seperti AS, yang termasuk sports bukan hanya sepakbola, lari, gulat, tinju atau atletik, tapi juga meliputi berburu, memancing, balap kuda, gokar, catur dan semacamnya. Kegiatan-kegiatan ini memang untuk amusement atau fun, maka masuklah dalam bidang sports.

Ambigu
Dengan demikian, pemakaian terma ‘olahraga’ untuk mewakili sports adalah ambiguitas (kerancuan) makna. Jika ditanya apakah suatu kegiatan dikategorikan ‘olahraga’ atau bukan, kita pasti bingung. Mengapa? Konsep ‘olahraga’ itu sendiri kabur, ambigu, rancu.

Kerancuan konsep ‘olahraga’ ini membuat kita ragu, dan takluk pada selera kapitalisme. Kegiatan minim gerak, asalkan dilombakan dengan dana besar, langsung jadi cabang ‘olahraga’. Semenetara itu, ‘olahraga’ rakyat (seperti kasti, gobaksodor) satu persatu didepak dari bumi pertiwi.

Begitulah, keraguan kita memilih terma ‘olahraga’ berimplikasi luas, tak hanya pada jenis kagiatannya, tapi juga faktor-faktor di luar kegiatan itu sendiri. Kerinduan pada ‘olahraga’ rakyat tak mudah kita obati akibat hegemoni dan kekuasaan kapitalisme (baca: uang).

Memang, untuk menutupi “kekurangan” konsep terma ‘olahraga’, kita memakai tameng motto mens sana in corpore sano (dalam tubuh sehat ada jiwa kuat). Dan, dalam praktiknya, terma ‘olahraga’ dipakai gegabah dan salah kaprah untuk mencakup nuansa “jiwa kuat” ini.

Olah Jiwa Raga?
Dengan paparan di atas, saya melihat bahwa konsep ‘olahraga’ urgen didekonstruksi. Dekonstruksi, menurut Derrida, merupakan pembongkaran dengan tujuan konstruksi baru, menyusun kembali ke tatanan dan tataran lebih signifikan.

Konsep olahraga dianggap sebagai teks, yang dapat dibaca seperti buku. Karena ada ketidaktepatan dalam penerjemahan sports ke dalam ‘olahraga’, sedang cakupannya berangsur sama, maka dekonstruksi ‘olahraga’ sangatlah urgen, bahkan sebuah keniscayaan.

Kita pasti punya terma yang lebih representatif.  Terma baru ini perlu mencerminkan kegiatan fisik dan mental (jiwa), bersifat permainan (playful), dan memberikan kesenangan  (amusement, fun). Misalnya, terma itu ‘olah jiwa raga’ atau ‘olah mental raga’.

Namun, memang, dekonstruksi  ini akan berimplikasi luas semisal perubahan nama dan stempel KONI. Namun, hal ini akan memberi batasan jelas. Muaranya, jika sewaktu-waktu muncul kegiatan baru, termasuk yang terimpor dari negara mana, kita tak akan repot mengkategorikannya.

Maksudnya, pemerintah perlu memperhatikan lebih proporsional kegiatan-kegiatan sports yang belum lazim diperlombakan. Perhatian proporsional, misalnya, harus tercurah pada panco (wrestling) atau bola sodok—sama pentingnya dengan tinju atau bulu tangkis.

Kini adalah tugas KONI, pakar ‘olahraga’, pakar bahasa untuk menentukan nama yang paling representatif bagi kegiatan-kegiatan fisik-mental yang selama ini diklaim sebagai ‘olahraga’. Jika tidak, kita termasuk sampel kecil orang Indonesia yang tak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.***

Tidak ada komentar: