It’s A Place for Self-Reflection, The World of Words Expressing Limitless Thoughts, Imagination, and Emotions

11 Desember 2012

SEMUA ADA HIKMAHNYA


Much. Khoiri

Alangkah tak terhingganya rahasia atau misteri yang terhampar di muka bumi ini, dan alangkah dhaif (lemah)-nya saya dalam memahami (meski) hanya sebagian kecil darinya. Salah satu bagian kecil itu adalah suatu hikmah dari suatu kejadian.


Ketika kita mendapati suatu musibah—entah ketinggalan kereta, kecopetan, ditinggal kekasih, sakit, hingga kematian—sahabat yang baik lazimnya datang menghibur, dan menutup kata-katanya dengan ungkapan, “Semua itu pasti ada hikmahnya.” Sebelum kalimat terakhir, sahabat akan mengelus hati kita agar bersabar, tabah, dan tawakkal.

Jarang sekali ada sahabat yang datang kepada kita ketika kita mengenyam kebahagiaan—entah dapat door-prize kulkas, komisi dari bos, atau kunci mobil (kantor)—dan mengucapkan kata-kata yang sama.  Padahal, dalam istilah ustadz(ah), kebahagiaan itu—identik dengan musibah—hakikatnya hanyalah ujian bagi manusia...(*Wuik, cik ngelipe..).

Kali ini saya termasuk ke dalam golongan kedua ini. Ya, saya tidak sedang terkena musibah, kesusahan, ditinggal kekasih, atau kematian. Naudzubillahi mindzaalik. Saya justru sedang merasakan kebahagiaan luar biasa. Nah, dalam kondisi inilah saya begitu bebal dan buramnya cermin hati untuk menangkap suatu hikmah di balik kebahagiaan!

***
Kebahagiaan menyimpan makna teramat luas, bergantung siapa yang memaknainya. Ia ada pada manusia lapar yang diberi makanan, pada manusia telanjang yang diberi pakaian, pada manusia buta yang diberi tongkat, pada mausia sakit parah yang dianugerahi kesmebuhan. Khusus untuk saya, kali ini, suatu kebahagiaan ketika saya mengantuk dan capek, saya diberi kesempatan untuk tidur pulas.

Mengapa tidur saja saya maknai suatu kebagiaan? Ya, obat dan terapi bagi rasa kantuk dan capek memanglah tidur, dan itu suatu kebahagiaan. Di samping itu, saya baru saja sembuh dari sakit dan masih harus menjaga kesehatan dengan seksama, sehingga tidur merupakan kebahagiaan tak terukur.

Seharian saya sudah menumpuk rasa capek, plus “simpanan” rasa capek yang saya karungi semalam akibat telat tidur karena harus menghaluskan data perencanaan dan pengembangan. Meski tekun mengikuti setiap sesi sharing dari beberapa perguruan tinggi yang telah dan sedang menerima IDB Funds—USU Medan, UIN Ar-Raniry, UNJ Jakarta—dan para pejabat-pejabat DIKTI, Bappenas, dan perwakilan IDB; tak urung fisik dan mental saya pun kejet-kejet (tepar) juga.

Itulah mengapa niat saya sudahlah bulat untuk tidak hadir dalam gala dinner di “Kampung Laut” yang dipersembahkan oleh panitia PMU IDB Forum ke-7, yakni Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dugaan saya, jika saya ikut hadir, pesta ikan itu akan menyita waktu hingga larut malam—dan itu berarti saya tidak bisa segera tidur.

Selepas maghrib saya segera merebahkan diri di ranjang kamar 1007, sekamar dengan sahabat baru saya, pak M. Sirozi dari IAIN Palembang.  Baru beberapa saat saya memanjakan diri, hujan deras pun mengguyur Semarang. I love rain so much.  Saya pun beranjak ke jendela, dan menikmati pemandangan bagaimana hujan membasuh seluruh kota Semarang.

Dari jendela ini saya lihat kendaraan jemputan menuju “kampung laut” sedang merambat; itu artinya saya pastilah tertinggal. Alhamdulillah, saya justru bahagia kalau tertinggal, karena saya ingin dan harus segera tidur. Dengan tidur secepatnya, kantuk dan capek saya akan segera hilang, nanti malam akan bisa bangun malam, dan akan bisa membaca atau menulis—serta bahagia!

***
Sejurus kemudian, di luar masih hujan deras, saya mendapat pesan BB bahwa kolega tim IDB saya sakit kepala tak tertahankan. Badannya juga greges tak karuan.  Maka, saya tawarkan diri untuk membelikan obat, nanti setelah hujan reda. 

Ternyata, hujan malam ini mungkin sengaja dikirimkan Tuhan untuk memberikan ilmu sabar kepada saya (*soktau.com).  Sementara itu, saya harus segera mendapatkan obat-obatan yang dipesan kolega saya. Saya tahu di mana apotek terdekat yang menyediakan obat tersebut, namun hujan malam masih menertawakan otak  saya yang mulai mengeluh....

Maka, sedikit saja ada peluang reda hujannya, saya cepat melesat ke apotek. Dalam waktu singkat, pegawai apotek—gadis Semarang yang manis—telah menyiapkan pesanan saya. Setelah itu, tanpa buang waktu, saya segera melesat ke lobi, naik lift, dan berhenti di lantai 13 untuk menyerahkan obat itu. Di sebuah kamar di lantai inilah saya mendapati kolega saya yang pasti—lalu tersenyum.

***
Malam sudah cukup larut, pukul 22.15, namun para sahabat baru yang menghadiri pesta ikan “kampung laut” belumlah kembali. (Perkiraan saya mereka akan pulang setelah pesta ikan dan berkaraokean—dan itu artinya tengah malam.)

Saya benar-benar harus beristirahat. Tiada alasan yang lebih baik kecuali harus tidur. Karena itulah, saya mulai memejamkan mata. Terasa nikmat mata ini, setelah seharian memelototi berjibun data di laptop, sambil mengikuti presentasi sharing. Semarang mulai bergeser ke peraduan malam jua.

Namun, saya akhirnya tidak jadi tidur terlebih dahulu. Field representative IDB, Dr. Makhlani menghubungi saya dan pak Suprapto (ketua TPP Unesa) untuk bertemu di lobi hotel. (Ternyata, beliau juga tidak bisa hadir dalam pesta ikan.) Sudah lama saya ingin bertemu beliau, dan malam inilah saatnya untuk menambah kebahagiaan itu.

Di lobi saya dan pak Suprapto bertemu dengan pak Makhlani. Justru malam inilah kami memperoleh (bocoran) informasi terkait dengan persiapan appraisal IDB di tujuh universitas di tanah air (Unesa, UNY, Untan, Unlam, Unsrat, UNG, Unsyiah). Kami juga diminta untuk membuat draf jadwal appraisal yang akan dikomunikasikan ke berbagai pihak terkait.

Senyum yang teduh dan kata-kata yang santun pak Makhlani merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Termasuk tatkala kami menjabat tangan beliau untuk menuju kamar masing-masing. Diskusi singkat dengan beliau memberikan kekuatan dan optimisme berlipat, dalam menyambut appraisal.

Barangkali inilah hikmah di balik kebahagiaan. Andaikata saya jadi ikut pesta ikan, mungkin tidak ada suatu peluang untuk meringankan sakit kolega tim saya dan untuk berdiskusi penting dengan wakil IDB di Indonesia ini. Sungguh, alangkah dhaifnya saya memahami “hanya” rahasia sekecil ini di antara rahasia yang tak terhingga.***

Gumaya Tower Hotel
Semarang, 30 November 2012 (03:00)

Tidak ada komentar: